Sering Dikira Flu Biasa, Kenali Gejala Awal Campak pada Dewasa yang Sangat Menular

Jangan Sepelekan Demam dan Mata Merah, Bisa Jadi Itu Gejala Campak

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 3 April 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sering Dikira Flu Biasa, Kenali Gejala Awal Campak pada Dewasa yang Sangat Menular (Foto: AI)

Sering Dikira Flu Biasa, Kenali Gejala Awal Campak pada Dewasa yang Sangat Menular (Foto: AI)

Berito.id – Banyak yang mengira campak hanyalah penyakit “musiman” yang menyerang anak-anak. Padahal, orang dewasa yang belum memiliki kekebalan tubuh yang cukup juga berisiko tinggi terpapar. Masalahnya, gejala awal campak pada orang dewasa sering kali mengecoh karena sangat mirip dengan infeksi saluran pernapasan atau flu biasa.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi dari PAPDI, Dr. dr. Adityo Susilo, Sp.PD, mengingatkan bahwa virus ini memiliki tingkat penularan yang sangat agresif. Virus tidak hanya berpindah melalui kontak langsung, tetapi juga mampu “bersembunyi” di udara.

Waspada Penularan Lewat Udara dan Benda Mati

Berbeda dengan beberapa virus lain yang membutuhkan kontak dekat, virus campak jauh lebih cerdik. Penularannya terjadi melalui percikan saluran napas (droplet) hingga partikel aerosol yang sangat kecil.

“Artinya, virus dapat bertahan di udara dan terhirup oleh orang lain,” ujar Adityo dalam diskusi daring pada Selasa (31/3/2026).

Selain udara, risiko penularan tidak langsung juga patut diwaspadai. Anda bisa tertular hanya karena menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi virus, lalu tanpa sadar menyentuh area wajah seperti hidung atau mulut.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Anjlok Jelang Lebaran, Momen Borong atau Tunggu Dulu?

Mengenali Rumus ‘3C’ Sebelum Ruam Muncul

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah menunggu munculnya ruam merah di kulit sebelum mencari bantuan medis. Padahal, sebelum bercak merah itu menyebar, tubuh biasanya sudah memberikan sinyal yang disebut fase prodromal.

Dokter Adityo menjelaskan ada tiga gejala utama yang dikenal sebagai ‘3C’:

  • Cough: Batuk yang terus-menerus.

  • Coryza: Pilek atau hidung tersumbat.

  • Conjunctivitis: Mata merah dan meradang.

“Kalau masih demam, batuk, pilek, itu bisa macam-macam. Kita baru curiga campak ketika muncul ruam yang khas,” tambahnya. Ruam ini biasanya berbentuk bercak kemerahan menonjol (makulopapular) yang muncul beberapa hari setelah demam tinggi.

Bahaya Fase ‘Window’: Menularkan Tanpa Gejala Khas

Salah satu poin paling krusial yang ditekanan oleh PAPDI adalah adanya fase inkubasi atau periode penularan awal. Ini adalah masa paling berbahaya bagi lingkungan sekitar penderita.

Pada fase ini, pasien sudah terinfeksi dan sistem tubuhnya mulai memproduksi virus dalam jumlah banyak. Penderita sudah bisa menularkan virus ke orang lain, namun karena ruam khas belum muncul, mereka belum terdeteksi sebagai pasien campak.

Baca Juga :  Kijang LGX 2026 'Reborn' Pakai Mesin Hybrid? Simak Bocoran Harga dan Spesifikasinya

“Di situ ada window di mana pasien sudah sakit dan bisa menularkan, tapi belum terdeteksi sebagai campak,” tegas Adityo.

Apa yang Harus Dilakukan?

Mengingat campak pada dewasa bisa memicu komplikasi serius seperti radang paru (pneumonia) atau infeksi otak, langkah deteksi dini menjadi kunci utama. Berikut tindakan yang disarankan:

  1. Isolasi Mandiri Segera: Jika Anda mengalami demam tinggi disertai mata merah dan batuk, sebaiknya batasi interaksi dengan orang lain, terutama mereka yang belum divaksin atau kelompok rentan (ibu hamil dan bayi).

  2. Gunakan Masker: Mengingat virus ini airborne (menular lewat udara), penggunaan masker medis sangat membantu menekan penyebaran.

  3. Cek Riwayat Vaksinasi: Pastikan apakah Anda sudah mendapatkan vaksinasi MMR atau campak di masa lalu. Jika ragu, konsultasikan dengan dokter mengenai vaksinasi mandiri bagi dewasa.

  4. Hidrasi dan Nutrisi: Jaga asupan cairan dan vitamin A, karena campak cenderung menguras cadangan nutrisi tubuh dengan cepat.

Mengenali tanda sejak awal bukan hanya soal kesembuhan pribadi, tapi juga cara kita melindungi orang-orang di sekitar dari ledakan penularan yang lebih luas. (Nd)

Berita Terkait

FBC Clinic Hadirkan XERF, Solusi Pengencangan Kulit Tanpa Operasi Plastik Lebih Hemat
WHO Tetapkan Ebola Darurat Global, Kemenkes Perketat Bandara dan Pelabuhan
Hantavirus Bukan Pandemi Baru, DPR Desak Pemerintah Gencarkan Edukasi Kebersihan
Mengenal Virus Andes, Hantavirus Langka yang Menular Antar Manusia
5 Manfaat Rutin Minum Kopi Hitam di Pagi Hari demi Kesehatan Optimal
Bukan Antisosial, Inilah Alasan Berkelas Mengapa Seseorang Berhenti Memposting Kehidupan Pribadi
Manfaat Ubi Jalar bagi Kesehatan, Dari Kontrol Gula Darah hingga Imunitas
Manfaat Berjemur Matahari Pagi dan Panduan Waktu Paling Efektif
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 11:08 WIB

FBC Clinic Hadirkan XERF, Solusi Pengencangan Kulit Tanpa Operasi Plastik Lebih Hemat

Rabu, 20 Mei 2026 - 09:24 WIB

WHO Tetapkan Ebola Darurat Global, Kemenkes Perketat Bandara dan Pelabuhan

Senin, 11 Mei 2026 - 15:29 WIB

Hantavirus Bukan Pandemi Baru, DPR Desak Pemerintah Gencarkan Edukasi Kebersihan

Minggu, 10 Mei 2026 - 21:18 WIB

Mengenal Virus Andes, Hantavirus Langka yang Menular Antar Manusia

Jumat, 8 Mei 2026 - 13:02 WIB

5 Manfaat Rutin Minum Kopi Hitam di Pagi Hari demi Kesehatan Optimal

Berita Terbaru

Artis yang bintangi variety show Jae Seok’s B&B Rules!/Foto: soompi/beautynesia)

Showbiz

3 Rekomendasi Drakor dan Variety Show Korea Terbaru Mei 2026

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:02 WIB