Berito.id – Para orang tua sebaiknya tidak langsung bangga saat melihat anak perempuan mereka mengalami pubertas lebih cepat. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Dr. dr. Ratna Dewi Puspita Sari, SpOG, MARS, FISQua, justru meminta masyarakat mewaspadai fenomena ini. Menurutnya, perkembangan fisik yang terlalu dini ini berkaitan erat dengan masalah hormon yang bisa mengancam kesehatan jangka panjang.
“Jangan senang dulu kalau anak gadis kita cepat pubertas. Semakin dini mereka mengalami pubertas, semakin tinggi pula risiko mereka menghadapi menopause lebih cepat,” kata Ratna. Dokter yang aktif melayani pasien di Prodia Women’s Health Center ini menjelaskan bahwa faktor genetik dari ibu sangat menentukan pola hormonal seorang anak perempuan sejak lahir. Faktor bawaan ini menciptakan profil hormon yang unik dan berbeda pada setiap individu. Oleh karena itu, Ratna mengajak setiap perempuan untuk mengenali kondisi dasar hormon tubuh mereka masing-masing.
Ancaman Kista hingga Tumor
Ketidakseimbangan kadar estrogen dan progesteron dapat mengacaukan berbagai fungsi tubuh manusia, mulai dari siklus haid hingga kondisi psikologis. Jika mengabaikan kondisi ini sejak dini, perempuan berpotensi besar menghadapi penyakit serius seperti miom, kista, hingga tumor di masa depan.
“Gaya hidup sehat melalui olahraga dan pemenuhan nutrisi yang cukup menjadi kunci. Tanpa upaya itu, ketidakseimbangan hormon akan mempercepat munculnya penyakit patologis seperti kista atau tumor,” jelas Ratna. Ratna juga menambahkan bahwa pubertas yang datang lebih awal otomatis mempercepat fase reproduksi. Dampak buruknya, jendela waktu menuju fase menopause menjadi jauh lebih pendek.
Pentingnya Deteksi Dini Hormon
Tubuh perempuan bekerja secara berkala mengikuti fluktuasi hormon, yang mencakup fase menstruasi, ovulasi, hingga luteal. Perubahan biologis ini memengaruhi suasana hati, tingkat energi, hingga kebugaran fisik. Sayangnya, mayoritas perempuan masih menganggap remeh perubahan ini dan mengategorikannya sebagai hal yang lumrah.
“Banyak orang salah kaprah dan mengira perubahan emosi atau fisik itu sekadar faktor usia atau karakter. Padahal, hormonlah yang mengendalikan segalanya, termasuk suasana hati dan metabolisme tubuh,” tambahnya.
Melalui edukasi ini, Ratna mengimbau kaum hawa untuk lebih peduli terhadap kondisi hormon mereka, terutama saat memasuki usia 40 tahun atau bahkan lebih awal jika memiliki gejala klinis. Langkah pemeriksaan medis menjadi sangat krusial untuk memetakan ketidakseimbangan hormon yang mengganggu sistem reproduksi.
“Kita tidak perlu menunggu tubuh jatuh sakit untuk melakukan pemeriksaan. Mengenali kondisi hormon lebih awal akan membantu kita mengendalikan kesehatan masa depan,” tutup Ratna.
(A/*)






