Berito.id – Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Kondisi tersebut di nilai berdampak pada pemenuhan protein hewani, terutama bagi anak-anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda, mengatakan konsumsi susu nasional saat ini baru mencapai 16,8 kilogram atau setara sekitar 17,8 liter per kapita setiap tahun.
Konsumsi Susu Indonesia Masih Tertinggal
Agung menjelaskan angka tersebut menunjukkan rata-rata masyarakat Indonesia hanya mengonsumsi susu dalam jumlah yang sangat kecil setiap hari. “Kalau di rata-ratakan, konsumsi susu masyarakat Indonesia per hari hanya sekitar satu sendok,” kata Agung saat menghadiri kegiatan di NICE PIK2, Kabupaten Tangerang, Selasa (16/6/2026).
Menurut dia, tingkat konsumsi susu Indonesia masih berada di peringkat ketujuh di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan konsumsi protein hewani agar kualitas kesehatan dan kebugaran masyarakat semakin baik. Ia menilai Indonesia perlu mengejar negara-negara tetangga yang memiliki tingkat konsumsi susu lebih tinggi, seperti Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. “Vietnam saja sudah mencapai sekitar 25 kilogram per kapita per tahun, bahkan lebih tinggi. Kita harus terus meningkatkan konsumsi susu nasional,” ujarnya.
Program MBG Jadi Pendorong Peningkatan Gizi Anak
Kementan optimistis Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat membantu meningkatkan konsumsi susu di kalangan anak-anak. Program tersebut memasukkan susu sebagai salah satu sumber gizi yang di berikan kepada peserta.
Selain melalui MBG, pemerintah juga terus menggalakkan kampanye konsumsi susu, daging, telur, dan ikan sebagai sumber protein hewani utama. Agung menegaskan upaya tersebut bertujuan meningkatkan asupan gizi anak-anak Indonesia agar tumbuh lebih sehat, cerdas, dan memiliki daya saing yang lebih baik di masa depan.
Edukasi Gizi Melalui SDTI 2026
Dalam kesempatan yang sama, Kementan menggelar sosialisasi SDTI 2026 yang mengajak masyarakat membiasakan konsumsi susu, daging, telur, dan ikan. Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian Indo Livestock Expo & Forum 2026 yang berlangsung di NICE PIK2, Kabupaten Tangerang.
Menurut Agung, edukasi gizi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat semakin memahami pentingnya protein hewani bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. “Protein hewani memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan kualitas generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas 2045,” katanya. Dalam acara tersebut, Kementan juga mengajak anak-anak mengonsumsi susu, daging, telur, dan ikan secara simbolis sebagai bagian dari kampanye peningkatan gizi nasional.
Indonesia Klaim Swasembada Domba dan Kambing
Selain membahas konsumsi susu, Kementan juga mengumumkan capaian baru di sektor peternakan. Pemerintah menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada daging domba dan kambing. Agung menjelaskan klaim tersebut di dasarkan pada rendahnya ketergantungan terhadap impor. Saat ini, impor daging domba dan kambing tercatat kurang dari 10 persen dari total kebutuhan nasional.
“Indonesia sudah bisa menyatakan diri swasembada daging domba dan kambing karena impor kita berada di bawah 10 persen dan terus menurun,” jelasnya. Meski demikian, pemerintah masih membuka keran impor terbatas untuk produk premium yang belum dapat di penuhi sepenuhnya oleh pasar domestik. Volume impornya pun tetap di jaga di bawah 10 persen dari kebutuhan nasional.
Dorong Ekspor Produk Peternakan
Kementan menegaskan Indonesia tidak hanya telah swasembada ayam dan telur, tetapi juga domba serta kambing. Saat ini pemerintah fokus memperkuat industri peternakan nasional agar mampu menembus pasar ekspor.
Agung menyebut pelaku usaha peternakan dalam negeri telah mengembangkan sistem pemotongan modern (butchering system). Teknologi tersebut memungkinkan berbagai jenis produk daging domba dan kambing berkualitas di produksi di dalam negeri. Langkah itu di harapkan dapat meningkatkan daya saing industri peternakan nasional sekaligus membuka peluang ekspor yang lebih besar pada masa mendatang.
(A/*)






