Saham BBCA Sentuh Level Terendah, Ini Penyebabnya

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 27 April 2026 - 09:39 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Saham BBCA Sentuh Level Terendah, Ini Penyebabnya (Foto: Ai)

Saham BBCA Sentuh Level Terendah, Ini Penyebabnya (Foto: Ai)

Berito.id – Lantai bursa di kejutkan dengan rontoknya harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) hingga menyentuh Rp 6.050 pada penutupan pekan lalu. Level ini menjadi titik terendah sejak masa pandemi 2021. Tak tanggung-tanggung, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) senilai Rp 2,1 triliun hanya dalam satu hari perdagangan.

Kondisi ini memicu tanda tanya besar: apakah jantung perbankan Indonesia sedang bermasalah?

Badai Sektoral, Bukan Masalah Internal

Penurunan tajam ini rupanya tidak dialami BBCA sendirian. Bank-bank raksasa lain seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turut terkoreksi masing-masing 2,81% dan 2,85%. Investor asing tampak sedang menarik diri secara serentak dari sektor perbankan nasional.

Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, menyebutkan bahwa perbankan merupakan etalase ekonomi Indonesia. Saat risiko makro meningkat, saham bank adalah yang paling pertama di lepas.

“Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas,” ungkap Jonathan.

Geopolitik dan Pelemahan Rupiah Jadi Pemicu

Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menjadi variabel utama yang menekan pasar. Konflik yang tak kunjung reda ini mengerek harga energi tetap tinggi, yang pada akhirnya membebani biaya operasional perusahaan dan memperlambat ekspektasi pertumbuhan laba emiten.

Baca Juga :  Jadwal Libur Bursa Efek Indonesia 15 Mei 2026, Strategi Menghadapi Cuti Bersama

Kondisi tersebut diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global. Arus modal keluar (outflow) menjadi konsekuensi logis di pasar negara berkembang saat ketidakpastian global memuncak.

Fundamental Tetap Kokoh: Laba Rp 14,7 Triliun

Meski harga sahamnya babak belur di pasar sekunder, kinerja keuangan BBCA sebenarnya masih berada di jalur yang benar. Pada kuartal I-2026, bank milik grup Djarum ini membukukan laba bersih Rp 14,7 triliun, tumbuh 4% secara tahunan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, dalam risetnya menyebutkan bahwa pendapatan non-bunga yang kuat mampu menahan tekanan pada Net Interest Margin (NIM). Pertumbuhan kredit pun masih terjaga di angka 6% YoY, ditopang kuat oleh sektor korporasi.

Baca Juga :  Kode Redeem FF 8 Mei 2026, Amankan Skin Eksklusif dan Diamond Gratis Sekarang

Strategi Hadapi Harga “Diskon”

Bagi investor jangka panjang, penurunan ini bisa menjadi peluang. Valuasi BBCA saat ini tercatat sudah berada di bawah rata-rata historisnya. BRI Danareksa Sekuritas bahkan masih mempertahankan rekomendasi Beli dengan target harga fantastis di Rp 10.900.

Tips Menghadapi Penurunan Saham Blue Chip:

  1. Cek Fundamental: Pastikan penurunan harga bukan karena kerusakan bisnis. Dalam kasus BBCA, laba tetap tumbuh dan aset tetap sehat.

  2. Pantau Kurs Rupiah: Pergerakan saham perbankan sangat sensitif terhadap stabilitas nilai tukar.

  3. Cicil Bertahap: Jika ingin melakukan average down, lakukan secara bertahap mengingat ketidakpastian geopolitik masih tinggi.

Saat ini, BBCA tetap optimis mematok target pertumbuhan kredit 8-10% hingga akhir tahun. Dengan kebijakan dividen interim tiga kali setahun, daya tarik saham ini diprediksi akan pulih begitu tekanan makroekonomi mereda. ***

Berita Terkait

Pertamina Perkuat Kapabilitas SDM dan Budaya ESG, Strategi Jangka Panjang Hadapi Transisi Energi
MyPertamina Tembus 31 Juta Pengguna, Pertamina Perkuat Ekosistem Energi Digital di GIIAS 2026
Harga BBM dan LPG Subsidi Dipastikan Tetap, Ini Dampak Fluktuasi Harga Minyak Dunia bagi Indonesia
Toyota Catat Kenaikan Ekspor Mobil 10,7 Persen di Semester I 2026
Promo Emas Galeri 24 Pegadaian Diskon Rp13 Ribu per Gram, Simak Syarat dan Daftar Harganya
OJK: 200 BPR Masih Jalani Proses Merger
Harga Emas Pekan Depan Masih Dibayangi Penguatan Dolar AS
Harga Minyak Dunia Sentuh US$100, Prabowo Minta Simulasi APBN
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:00 WIB

MyPertamina Tembus 31 Juta Pengguna, Pertamina Perkuat Ekosistem Energi Digital di GIIAS 2026

Rabu, 29 Juli 2026 - 08:00 WIB

Harga BBM dan LPG Subsidi Dipastikan Tetap, Ini Dampak Fluktuasi Harga Minyak Dunia bagi Indonesia

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:00 WIB

Toyota Catat Kenaikan Ekspor Mobil 10,7 Persen di Semester I 2026

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:00 WIB

Promo Emas Galeri 24 Pegadaian Diskon Rp13 Ribu per Gram, Simak Syarat dan Daftar Harganya

Senin, 27 Juli 2026 - 11:00 WIB

OJK: 200 BPR Masih Jalani Proses Merger

Berita Terbaru