Berito.id – Sejarah Singkat Candi Borobudur merupakan salah satu peninggalan sejarah paling berharga di Indonesia. Berlokasi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bangunan ini di kenal sebagai candi Buddha terbesar di dunia sekaligus salah satu situs warisan dunia UNESCO yang paling terkenal.
Keindahan arsitektur dan nilai sejarah yang di miliki menjadikan Borobudur sebagai destinasi wisata unggulan yang menarik jutaan wisatawan dari berbagai negara setiap tahunnya.
Sejarah singkat candi borobudur di bangun pada masa dinasti sailendra
Berdasarkan berbagai sumber sejarah, Candi Borobudur di bangun oleh Dinasti Sailendra sekitar tahun 780–840 Masehi. Pada masa itu, candi ini berfungsi sebagai tempat ibadah umat Buddha sekaligus pusat pembelajaran spiritual. Borobudur di rancang sebagai simbol perjalanan manusia menuju pencerahan. Setiap bagian bangunannya mengandung pesan moral dan ajaran Buddha yang mengajak manusia meninggalkan nafsu duniawi untuk mencapai kebijaksanaan.
Selain terinspirasi dari konsep stupa dan mandala yang berkembang di India, para ahli meyakini bahwa Candi Borobudur juga mengadopsi berbagai unsur budaya Nusantara. Hal ini terlihat dari bentuk bangunannya yang memiliki kemiripan dengan struktur punden berundak yang telah dikenal sejak masa prasejarah di Indonesia. Dengan demikian, Borobudur tidak hanya mencerminkan pengaruh budaya India, tetapi juga menunjukkan kuatnya identitas lokal yang berkembang pada masa itu. Di sisi lain, perpaduan dua unsur budaya tersebut menjadikan Borobudur memiliki karakter arsitektur yang unik dan berbeda dari candi-candi Buddha lainnya di dunia.
Oleh karena itu, banyak sejarawan menilai bahwa Borobudur merupakan bukti nyata terjadinya proses akulturasi budaya yang harmonis antara tradisi lokal Nusantara dan ajaran Buddha yang datang dari luar wilayah Indonesia. Bahkan, perpaduan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Borobudur diakui sebagai mahakarya peradaban yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang sangat tinggi.
Setelah lama tertutup abu vulkanik dan semak belukar, Borobudur di temukan kembali pada tahun 1814 oleh tim yang di pimpin Sir Thomas Stamford Raffles saat Inggris menguasai Jawa.
Pembersihan awal dilakukan untuk menyingkap struktur bangunan yang terkubur. Namun karena ukuran candi yang sangat besar, proses tersebut tidak dapat di selesaikan sepenuhnya.
Pekerjaan kemudian di lanjutkan oleh Residen Kedu, Hartmann, hingga seluruh area candi berhasil di bersihkan pada tahun 1835.
Sejak saat itu, Borobudur beberapa kali menjalani pemugaran, termasuk restorasi besar pada 1907–1911 oleh Theodor van Erp dan proyek pemugaran terbesar pada 1973–1983 yang melibatkan Pemerintah Indonesia dan UNESCO.
Sejarah singkat candi borobudur keunikan arsitektur
Borobudur di bangun menggunakan konsep mandala yang melambangkan alam semesta dalam ajaran Buddha.
Strukturnya terdiri atas:
- Lima teras berbentuk persegi
- Tiga teras berbentuk lingkaran
- 72 stupa berlubang
- Satu stupa utama di puncak
Selain itu, candi ini memiliki:
- 1.460 relief naratif
- 1.212 relief dekoratif
- Total 2.672 panel relief
- Luas relief sekitar 2.500 meter persegi
Setiap tingkatan candi menggambarkan tahapan kehidupan manusia menuju kesempurnaan spiritual.
Tiga Tingkatan Utama Candi Borobudur
1. Kamadhatu
2. Rupadhatu
Rupadhatu melambangkan tahap ketika manusia mulai melepaskan diri dari ikatan duniawi. Bagian ini di penuhi galeri relief dan patung Buddha yang menggambarkan perjalanan hidup, kebajikan, serta ajaran moral. Tercatat terdapat sekitar 328 arca Buddha dan lebih dari 1.300 relief yang menghiasi kawasan ini.
3. Arupadhatu
Arupadhatu merupakan tingkatan tertinggi yang melambangkan kondisi spiritual yang hampir mencapai nirwana. Pada bagian ini terdapat tiga pelataran berbentuk lingkaran dengan 72 stupa berlubang yang mengelilingi stupa utama. Tidak terdapat banyak ornamen pada area ini, yang mencerminkan kemurnian dan kesempurnaan spiritual.
Empat Relief Utama yang Menghiasi Borobudur
Karmawibhangga
Relief Karmawibhangga mengajarkan hukum karma atau sebab-akibat. Pesan utamanya adalah setiap perbuatan manusia akan menghasilkan konsekuensi yang sesuai.
Jataka dan Awadana
Sebanyak 620 panel relief Jataka dan Awadana menceritakan kisah teladan tentang kebajikan, pengorbanan, serta pentingnya memberi manfaat bagi sesama.
Lalitavistara
Relief Lalitavistara terdiri dari 120 panel yang mengisahkan perjalanan hidup Siddhartha Gautama hingga menjadi Buddha.
Gandavyuha
Gandavyuha merupakan rangkaian relief terbesar dengan sekitar 460 panel. Relief ini menggambarkan perjalanan manusia dalam mencari pengetahuan, kebijaksanaan, dan kesempurnaan hidup.
Warisan Dunia yang Sarat Nilai Filosofi
Lebih dari sekadar objek wisata, Candi Borobudur merupakan simbol kejayaan peradaban Nusantara pada masa lampau. Setiap relief, stupa, dan tingkatan bangunannya menyimpan pesan moral yang mengajarkan kebajikan, toleransi, serta perjalanan manusia menuju pencerahan. Tak heran jika hingga kini Borobudur tetap menjadi salah satu mahakarya arsitektur dan warisan budaya paling berharga yang di miliki Indonesia dan dunia.
(Aat/*)






