Berito.id – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mengalami penurunan pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Setelah sehari sebelumnya terkoreksi Rp4.000 per gram, kini harga emas Antam kembali turun sebesar Rp9.000 per gram. Berdasarkan informasi dari situs resmi Logam Mulia, harga emas Antam hari ini dipatok Rp2.601.000 per gram. Sebelumnya, pada perdagangan Selasa, harga emas masih berada di level Rp2.610.000 per gram.
Penurunan ini juga terjadi pada harga buyback atau pembelian kembali emas. Nilai buyback ikut terkoreksi Rp9.000 sehingga kini berada di angka Rp2.332.000 per gram. Artinya, pemilik emas yang ingin menjual kembali logam mulianya ke Antam akan menerima harga tersebut. Perlu diketahui, harga buyback merupakan acuan yang digunakan Antam saat membeli kembali emas batangan dari masyarakat. Selain itu, harga emas dapat berubah sewaktu-waktu karena mengikuti pergerakan pasar.
Rekor Harga Emas Antam Masih Bertahan
Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi pada Kamis, 29 Januari 2026. Saat itu, harga emas mencapai Rp3.168.000 per gram, sedangkan harga buyback berada di level Rp2.989.000 per gram. Seluruh data harga emas tersebut berasal dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk, sehingga menjadi acuan resmi bagi masyarakat.
Daftar Harga Emas Antam Hari Ini
Berikut rincian harga emas Antam pada Rabu (22/7/2026):
- 0,5 gram: Rp1.350.500
- 1 gram: Rp2.601.000
- 2 gram: Rp5.142.000
- 3 gram: Rp7.688.000
- 5 gram: Rp12.780.000
- 10 gram: Rp25.505.000
- 25 gram: Rp63.637.000
- 50 gram: Rp127.195.000
- 100 gram: Rp254.312.000
- 250 gram: Rp635.515.000
- 500 gram: Rp1.270.820.000
- 1.000 gram (1 kg): Rp2.541.600.000
Harga Emas Dunia Bergerak Stabil
Sementara itu, harga emas dunia ditutup relatif stabil pada perdagangan Senin. Pelaku pasar masih memantau perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, termasuk dampaknya terhadap harga minyak global. Mengutip dari Media, Selasa (22/7/2026), harga emas di pasar spot turun tipis 0,2% menjadi US$4.006,74 per ounce. Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus melemah 0,1% ke level US$4.015,90 per ounce.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menjelaskan bahwa harga emas masih bergerak berlawanan dengan harga minyak. Karena itu, perkembangan situasi di Timur Tengah tetap menjadi perhatian utama investor. Menurut Staunovo, pelaku pasar terus mengikuti dinamika geopolitik karena dapat memengaruhi arah pergerakan harga emas dan komoditas energi.
Konflik Timur Tengah Jadi Sorotan Investor
Ketegangan geopolitik meningkat setelah pasukan AS melancarkan serangan ke Iran untuk hari kesembilan berturut-turut. Selain itu, muncul kekhawatiran terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz setelah Iran menyatakan dua kapal tanker minyak mengalami ledakan dan tidak bisa beroperasi.
Meski demikian, kenaikan harga minyak mulai mereda. Kondisi tersebut terjadi setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyampaikan bahwa negosiasi dengan AS masih memungkinkan selama tetap sejalan dengan kepentingan nasional negaranya.
Hubungan Inflasi dengan Harga Emas
Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Akibatnya, pelaku pasar memperkirakan suku bunga acuan di Amerika Serikat akan tetap berada pada level tinggi dalam waktu yang lebih lama. Walaupun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.
Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, juga menilai suku bunga kemungkinan masih perlu dinaikkan untuk menekan inflasi yang dinilai belum sepenuhnya terkendali. Pandangan tersebut memperkuat sikap sejumlah pejabat The Fed yang menginginkan kebijakan moneter tetap ketat menjelang pertemuan bank sentral berikutnya. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Desember kini diperkirakan mencapai sekitar 80%, meningkat dari 73% pada pekan sebelumnya.
Di sisi lain, UBS tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka menengah. Giovanni Staunovo memperkirakan pelemahan dolar AS dalam enam hingga 12 bulan ke depan akan menopang harga emas. Menurutnya, logam mulia tersebut masih berpeluang kembali menembus level US$5.000 per ounce.
(A/*)







