Berito.id – Harga minyak dunia kembali melonjak hingga menembus angka US$100 per barel. Kondisi ini membuat Presiden Prabowo Subianto meminta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan berbagai simulasi dampaknya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kenaikan harga minyak di perkirakan akan memengaruhi sejumlah pos pengeluaran pemerintah. Karena itu, pemerintah mulai menghitung berbagai kemungkinan agar kondisi fiskal tetap terjaga.
Pemerintah Hitung Berbagai Skenario
Harga minyak Brent yang menjadi acuan pasar global sempat melewati level US$100 per barel pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Purbaya mengatakan, arahan tersebut di sampaikan langsung oleh Presiden Prabowo saat rapat kabinet. Pemerintah di minta menghitung dampak APBN dalam berbagai kemungkinan harga minyak, bukan hanya ketika berada di level US$100 per barel. Menurutnya, tim Kementerian Keuangan saat ini masih menyelesaikan perhitungan tersebut untuk melihat pengaruhnya terhadap anggaran negara.
Ruang Belanja Pemerintah Bisa Menyempit
Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah sudah beberapa kali menghadapi kondisi serupa sehingga kenaikan harga minyak bukan situasi yang benar-benar baru. Sebelumnya, pemerintah melihat peluang untuk menambah belanja ke sejumlah sektor, termasuk alokasi Transfer ke Daerah (TKD). Namun, ketika harga minyak kembali naik, ruang fiskal tersebut di perkirakan menjadi lebih terbatas. Meski begitu, ia menegaskan kondisi ini tidak membahayakan APBN. Menurutnya, yang berubah hanyalah fleksibilitas pemerintah dalam menambah anggaran untuk kementerian, lembaga, maupun pemerintah daerah.
Anggaran Stimulus Ekonomi Tetap Aman
Purbaya juga memastikan kenaikan harga minyak dunia tidak akan memengaruhi anggaran stimulus ekonomi semester II yang sudah di siapkan pemerintah. Ia menjelaskan bahwa sejak awal penyusunan stimulus, pemerintah telah menggunakan asumsi harga minyak mencapai US$100 per barel. Dengan begitu, lonjakan harga saat ini tidak mengubah alokasi anggaran stimulus yang telah di tetapkan. Namun, tambahan dana untuk kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah kemungkinan tidak akan sebesar rencana sebelumnya karena ruang fiskal menjadi lebih sempit.
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak
Kenaikan harga minyak di picu meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama konflik di Laut Merah. Serangan terhadap kapal tanker serta meningkatnya tensi geopolitik ikut mendorong harga minyak dunia naik tajam. Berdasarkan laporan Media yang di kutip pada Jumat (24/7/2026), harga minyak Brent melonjak sekitar 7 persen dan di tutup di level US$100,69 per barel. Ini menjadi pertama kalinya Brent berada di atas US$100 sejak 26 Mei.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 6 persen hingga di tutup pada US$92,19 per barel. Sepanjang bulan ini, harga minyak dunia tercatat sudah meningkat lebih dari 30 persen. Kenaikan tersebut terjadi seiring memanasnya konflik di Timur Tengah, termasuk laporan serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi menggunakan drone dan rudal sebagai bagian dari blokade maritim terhadap Riyadh.
Penulis : Rifqi
Editor : A
Sumber Berita: liputan6







