Berito.id – Pemerintah terus memperkuat pelaksanaan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras sebagai langkah antisipasi menghadapi dampak El Nino ekstrem. Fenomena cuaca tersebut di nilai berpotensi mengganggu pasokan pangan sekaligus memicu kenaikan harga di berbagai daerah.
Melalui penyaluran beras dari Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), pemerintah berupaya menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menahan gejolak harga selama musim kemarau. Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Maino Dwi Hartono, mengatakan program SPHP beras hingga saat ini masih berjalan sesuai target. Menurutnya, stok beras pemerintah yang telah melampaui 5 juta ton menjadi modal kuat untuk menjaga stabilitas pangan nasional. “Ketersediaan pangan kita cukup banyak. Stok kita banyak sekali. Lebih 5 juta ton, artinya sangat aman. Namun yang perlu di perhatikan adalah bagaimana mendistribusikan beras pemerintah ini,” kata Maino di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Penyaluran SPHP Capai 82 Persen dari Target
Pada 2026, program SPHP beras di targetkan menyalurkan sekitar 828 ribu ton beras kepada masyarakat. Hingga pekan kedua Juli 2026, realisasi penyalurannya telah mencapai 678,87 ribu ton atau sekitar 82 persen dari target tahunan. Capaian tersebut meningkat sekitar 274 persen di bandingkan periode yang sama tahun lalu yang baru mencapai 181,17 ribu ton.
Maino menjelaskan, distribusi SPHP kini dilakukan lebih luas. Penyaluran tidak hanya melalui pasar, tetapi juga lewat Gerakan Pangan Murah agar beras pemerintah bisa lebih cepat di terima masyarakat. Selain itu, pemerintah kembali menyalurkan bantuan pangan beras kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat selama periode Juli hingga September 2026. Program tersebut di harapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus membantu menekan harga beras di tingkat konsumen.
Inflasi Pangan Ikut Menurun
Langkah intervensi pemerintah juga berkontribusi terhadap stabilitas inflasi pangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pangan secara tahunan turun dari 6,24 persen pada Mei 2026 menjadi 5,58 persen pada Juni 2026. Sementara itu, inflasi pangan berdasarkan tahun kalender hingga Juni 2026 tercatat 1,61 persen, lebih rendah di bandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 2,15 persen.
El Nino Ekstrem Jadi Ancaman Ketahanan Pangan
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah perlu terus memperkuat ketahanan pangan nasional karena dunia sedang menghadapi ancaman El Nino ekstrem yang berpotensi mengganggu pasokan beras global. Menurutnya, apabila negara-negara produsen membatasi ekspor demi memenuhi kebutuhan dalam negeri, dampaknya bisa meluas terhadap kondisi ekonomi dan sosial.
“Sekarang ini kita menghadapi tantangan pangan. Ada El Nino yang cukup ekstrem dan berdampak di berbagai negara. Apabila kondisi tersebut menyebabkan pasokan beras terganggu dan negara-negara produsen membatasi ekspornya karena harus memenuhi kebutuhan domestik, maka dampaknya dapat meluas ke stabilitas ekonomi dan sosial. Oleh karena itu, Bapak Presiden Prabowo meminta, harus swasembada,” ujar Andi Amran yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian.
BMKG: Operasi Modifikasi Cuaca Belum Bisa Dilakukan
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa operasi modifikasi cuaca (OMC) belum dapat di terapkan untuk mengatasi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Ketua Tim Kerja Prediksi Bulanan BMKG, Supari, menjelaskan keberhasilan OMC bergantung pada keberadaan awan hujan yang memiliki kandungan air untuk disemai.
Berdasarkan data dari 4.686 titik pengamatan pada awal Juli 2026, sejumlah wilayah di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur sudah mengalami lebih dari satu bulan tanpa hujan. Bahkan, beberapa daerah tercatat tidak di guyur hujan selama 30 hingga 60 hari. Supari mengatakan semakin lama suatu wilayah tidak mengalami hujan, semakin besar pula risiko kekeringan yang di hadapi. Namun, OMC tidak dapat menjadi solusi jika tidak tersedia awan hujan. “Prinsip utamanya adalah OMC tidak dapat ‘menciptakan’ hujan dari langit yang cerah,” ujar Supari. Ia menambahkan, pada musim kemarau yang sangat kering, operasi modifikasi cuaca memang tidak bisa dilaksanakan karena tidak ada bibit awan yang dapat di semai.
(A/*)







