Pemerintah Perkuat Program SPHP Beras Hadapi Ancaman El Nino Ekstrem

Stok beras 5 juta ton disiapkan untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan.

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah Perkuat Program SPHP Beras Hadapi Ancaman El Nino Ekstrem
(Foto: Perum Bulog
/rri)

Pemerintah Perkuat Program SPHP Beras Hadapi Ancaman El Nino Ekstrem (Foto: Perum Bulog /rri)

Berito.id – Pemerintah terus memperkuat pelaksanaan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras sebagai langkah antisipasi menghadapi dampak El Nino ekstrem. Fenomena cuaca tersebut di nilai berpotensi mengganggu pasokan pangan sekaligus memicu kenaikan harga di berbagai daerah.

Melalui penyaluran beras dari Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), pemerintah berupaya menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menahan gejolak harga selama musim kemarau. Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Maino Dwi Hartono, mengatakan program SPHP beras hingga saat ini masih berjalan sesuai target. Menurutnya, stok beras pemerintah yang telah melampaui 5 juta ton menjadi modal kuat untuk menjaga stabilitas pangan nasional. “Ketersediaan pangan kita cukup banyak. Stok kita banyak sekali. Lebih 5 juta ton, artinya sangat aman. Namun yang perlu di perhatikan adalah bagaimana mendistribusikan beras pemerintah ini,” kata Maino di Jakarta, Senin (20/7/2026).

Penyaluran SPHP Capai 82 Persen dari Target

Pada 2026, program SPHP beras di targetkan menyalurkan sekitar 828 ribu ton beras kepada masyarakat. Hingga pekan kedua Juli 2026, realisasi penyalurannya telah mencapai 678,87 ribu ton atau sekitar 82 persen dari target tahunan. Capaian tersebut meningkat sekitar 274 persen di bandingkan periode yang sama tahun lalu yang baru mencapai 181,17 ribu ton.

Maino menjelaskan, distribusi SPHP kini dilakukan lebih luas. Penyaluran tidak hanya melalui pasar, tetapi juga lewat Gerakan Pangan Murah agar beras pemerintah bisa lebih cepat di terima masyarakat. Selain itu, pemerintah kembali menyalurkan bantuan pangan beras kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat selama periode Juli hingga September 2026. Program tersebut di harapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus membantu menekan harga beras di tingkat konsumen.

Baca Juga :  Harga Kripto 19 April 2026: Bitcoin Turun ke Rp 1,30 Miliar, Altcoin Kompak Memerah

Inflasi Pangan Ikut Menurun

Langkah intervensi pemerintah juga berkontribusi terhadap stabilitas inflasi pangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pangan secara tahunan turun dari 6,24 persen pada Mei 2026 menjadi 5,58 persen pada Juni 2026. Sementara itu, inflasi pangan berdasarkan tahun kalender hingga Juni 2026 tercatat 1,61 persen, lebih rendah di bandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 2,15 persen.

El Nino Ekstrem Jadi Ancaman Ketahanan Pangan

Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah perlu terus memperkuat ketahanan pangan nasional karena dunia sedang menghadapi ancaman El Nino ekstrem yang berpotensi mengganggu pasokan beras global. Menurutnya, apabila negara-negara produsen membatasi ekspor demi memenuhi kebutuhan dalam negeri, dampaknya bisa meluas terhadap kondisi ekonomi dan sosial.

“Sekarang ini kita menghadapi tantangan pangan. Ada El Nino yang cukup ekstrem dan berdampak di berbagai negara. Apabila kondisi tersebut menyebabkan pasokan beras terganggu dan negara-negara produsen membatasi ekspornya karena harus memenuhi kebutuhan domestik, maka dampaknya dapat meluas ke stabilitas ekonomi dan sosial. Oleh karena itu, Bapak Presiden Prabowo meminta, harus swasembada,” ujar Andi Amran yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian.

Baca Juga :  Head to Head Spanyol vs Argentina: Rekor Pertemuan Jelang Final Piala Dunia 2026

BMKG: Operasi Modifikasi Cuaca Belum Bisa Dilakukan

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa operasi modifikasi cuaca (OMC) belum dapat di terapkan untuk mengatasi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Ketua Tim Kerja Prediksi Bulanan BMKG, Supari, menjelaskan keberhasilan OMC bergantung pada keberadaan awan hujan yang memiliki kandungan air untuk disemai.

Berdasarkan data dari 4.686 titik pengamatan pada awal Juli 2026, sejumlah wilayah di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur sudah mengalami lebih dari satu bulan tanpa hujan. Bahkan, beberapa daerah tercatat tidak di guyur hujan selama 30 hingga 60 hari. Supari mengatakan semakin lama suatu wilayah tidak mengalami hujan, semakin besar pula risiko kekeringan yang di hadapi. Namun, OMC tidak dapat menjadi solusi jika tidak tersedia awan hujan. “Prinsip utamanya adalah OMC tidak dapat ‘menciptakan’ hujan dari langit yang cerah,” ujar Supari. Ia menambahkan, pada musim kemarau yang sangat kering, operasi modifikasi cuaca memang tidak bisa dilaksanakan karena tidak ada bibit awan yang dapat di semai.

(A/*)

Berita Terkait

B50 Ditargetkan Tersedia di Seluruh SPBU Mulai 1 Oktober 2026
Prediksi Rupiah 20 Juli 2026 Berpeluang Sentuh Rp17.870
Cara Investasi Bitcoin untuk Pemula Tahun 2026
Update Harga Perak Antam 18 Juli 2026, Naik ke Rp37.900
Survei BI: Kinerja Dunia Usaha Triwulan II 2026 Meningkat
Purbaya: Modal Koperasi Merah Putih Rp 3 Miliar untuk Gerai dan Operasional
Update Harga Emas 24 Karat 16 Juli 2026, Cek Antam hingga Pegadaian
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp20.000, Buyback Anjlok Rp42.000
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 13:00 WIB

B50 Ditargetkan Tersedia di Seluruh SPBU Mulai 1 Oktober 2026

Senin, 20 Juli 2026 - 09:00 WIB

Prediksi Rupiah 20 Juli 2026 Berpeluang Sentuh Rp17.870

Minggu, 19 Juli 2026 - 09:00 WIB

Cara Investasi Bitcoin untuk Pemula Tahun 2026

Sabtu, 18 Juli 2026 - 16:00 WIB

Update Harga Perak Antam 18 Juli 2026, Naik ke Rp37.900

Jumat, 17 Juli 2026 - 23:00 WIB

Survei BI: Kinerja Dunia Usaha Triwulan II 2026 Meningkat

Berita Terbaru

Bulog Sungai Penuh Realisasikan Penyerapan 736 Ton Gabah
(Foto: rri)

Daerah

Bulog Sungai Penuh Realisasikan Penyerapan 736 Ton Gabah

Selasa, 21 Jul 2026 - 21:00 WIB

B50 Ditargetkan Tersedia di Seluruh SPBU Mulai 1 Oktober 2026
(Foto: AI)

Finansial

B50 Ditargetkan Tersedia di Seluruh SPBU Mulai 1 Oktober 2026

Selasa, 21 Jul 2026 - 13:00 WIB