Berito.id – Transformasi bisnis berkelanjutan kini tidak lagi hanya di ukur dari pencapaian finansial. Bagi perusahaan energi seperti PT Pertamina (Persero), keberhasilan juga di tentukan oleh kemampuan mengelola aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) secara konsisten. Komitmen tersebut kembali mendapat pengakuan setelah Pertamina Sustainability Academy (PSA) meraih Anugerah Utama Sektor Energi.
Penghargaan ini menunjukkan bahwa strategi penguatan sumber daya manusia (SDM) dan budaya perusahaan mulai di pandang sebagai aset ekonomi jangka panjang, bukan sekadar program pelatihan internal. Dari perspektif bisnis, langkah tersebut penting karena industri energi sedang menghadapi tekanan besar akibat perubahan regulasi, tuntutan investor, hingga percepatan transisi menuju energi rendah karbon.
Dua Fondasi yang Di perkuat Pertamina
Alih-alih hanya berinvestasi pada teknologi, Pertamina menempatkan dua aspek sebagai fondasi transformasi perusahaan, yaitu:
- Penguatan kapabilitas SDM, agar seluruh pekerja memahami implementasi ESG hingga tingkat pengambilan keputusan strategis.
- Pembangunan budaya keberlanjutan, sehingga prinsip ESG menjadi bagian dari aktivitas bisnis sehari-hari, bukan sekadar memenuhi regulasi.
Pendekatan tersebut di nilai mampu mempercepat adaptasi perusahaan terhadap perubahan industri sekaligus menjaga daya saing dalam jangka panjang. Secara sederhana, investasi pada SDM berarti perusahaan tidak hanya membeli teknologi baru, tetapi juga memastikan seluruh pekerja mampu mengoperasikan, mengembangkan, dan mengambil keputusan yang sesuai dengan arah transformasi energi.
Mengapa Strategi Ini Penting Secara Ekonomi?
Menteri Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat, menilai ESG kini telah berkembang menjadi fondasi penting dalam membangun nilai perusahaan. Menurutnya, ESG tidak lagi sebatas kewajiban administratif, melainkan investasi strategis yang mampu meningkatkan daya saing serta menciptakan pertumbuhan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Dari sisi ekonomi, perusahaan yang memiliki tata kelola ESG yang kuat umumnya memperoleh beberapa keuntungan, antara lain:
- lebih mudah memperoleh pendanaan dari investor;
- memiliki risiko operasional yang lebih rendah;
- meningkatkan efisiensi jangka panjang;
- memperkuat kepercayaan pasar dan pemangku kepentingan.
Dengan kata lain, implementasi ESG berpotensi menurunkan biaya risiko sekaligus meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang.
SDM Menjadi Penentu Keberhasilan Transisi Energi
Senior Vice President Business Sustainability PT Pertamina (Persero), Wenny Ipmawan, menjelaskan bahwa transformasi energi pada akhirnya merupakan transformasi manusia. Pertamina Sustainability Academy di rancang untuk meningkatkan kompetensi seluruh pekerja, mulai dari pemahaman dasar mengenai keberlanjutan hingga kemampuan mengambil keputusan strategis yang mendukung Dual Growth Strategy perusahaan.
Program ini juga di arahkan untuk mempersiapkan organisasi menghadapi dinamika industri energi yang semakin cepat berubah. Menurut Wenny, penghargaan yang di terima bukanlah tujuan akhir, melainkan dorongan agar kualitas implementasi ESG terus meningkat seiring target perusahaan menuju Net Zero Emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.
Investasi Kompetensi Di nilai Mengurangi Risiko Bisnis
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa keberhasilan ESG sangat bergantung pada kesamaan pemahaman seluruh insan perusahaan. Artinya, implementasi ESG tidak cukup di tuangkan dalam dokumen kebijakan. Nilai tersebut harus hadir dalam setiap keputusan operasional, investasi, hingga pengembangan bisnis.
Dari sudut pandang ekonomi, pendekatan ini berpotensi mengurangi berbagai risiko, seperti:
- risiko kepatuhan terhadap regulasi;
- risiko reputasi perusahaan;
- risiko investasi pada proyek jangka panjang;
- risiko operasional selama proses transisi energi.
Semakin kuat budaya perusahaan, semakin kecil peluang terjadinya ketidaksesuaian implementasi di lapangan.
Program Berjenjang untuk Seluruh Tingkatan Organisasi
Pertamina Sustainability Academy di susun dalam beberapa jenjang pembelajaran agar seluruh level organisasi memiliki kompetensi yang sesuai dengan tanggung jawabnya.
Program tersebut meliputi:
- Mandatory Sustainability Training;
- Sustainability Awareness Program;
- Sustainability Accelerator Program;
- Sustainability Masterclass;
- Sustainability Transcendence Forum bagi Direksi dan Dewan Komisaris.
Selain pelatihan formal, Pertamina juga membangun budaya keberlanjutan melalui podcast, program Jejak Keberlanjutan, Sustainability Insight, serta berbagai materi komunikasi internal. Pendekatan ini bertujuan memastikan ESG tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjadi bagian dari pola pikir dan budaya kerja seluruh insan perusahaan.
Analisis Ekonomi: Peluang Lebih Besar, Namun Implementasi Menjadi Tantangan
Pertamina menunjukkan bahwa investasi pada SDM kini menjadi bagian dari investasi bisnis. Peluangnya adalah meningkatnya daya saing perusahaan, peluang memperoleh pembiayaan yang lebih luas, efisiensi operasional, serta kesiapan menghadapi regulasi global yang semakin ketat terkait keberlanjutan.
Namun, risikonya juga tidak kecil. Investasi pengembangan kompetensi membutuhkan biaya yang besar dan hasilnya baru dapat di rasakan dalam jangka panjang. Keberhasilan program juga bergantung pada konsistensi implementasi di seluruh unit bisnis.
Apabila penguatan kapabilitas dan budaya mampu berjalan beriringan, Pertamina berpotensi memperkuat posisi sebagai perusahaan energi yang lebih adaptif menghadapi perubahan pasar sekaligus menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan bagi pemegang saham, masyarakat, dan lingkungan.
(A/*)







