Bitcoin Menguat ke Rp1,13 Miliar Meski Risiko Geopolitik Tinggi

Negosiasi gencatan senjata AS-Iran memberi dukungan bagi Bitcoin, namun ancaman penutupan Selat Hormuz masih menimbulkan ketidakpastian di pasar

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 22 Juni 2026 - 09:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bitcoin Menguat ke Rp1,13 Miliar Meski Risiko Geopolitik Tinggi(Foto: Shutterstock/detik)

Bitcoin Menguat ke Rp1,13 Miliar Meski Risiko Geopolitik Tinggi(Foto: Shutterstock/detik)

Berito.idHarga Bitcoin (BTC) bergerak di kisaran US$63.961 atau sekitar Rp1,13 miliar pada Minggu (21/6/2026) malam. Pergerakan aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar itu di pengaruhi perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Data CoinMarketCap menunjukkan Bitcoin menguat 0,43 persen dalam 24 jam terakhir. Meski demikian, kinerjanya masih melemah 0,76 persen dalam sepekan.

Bitcoin berhasil memangkas sebagian tekanan yang terjadi pada Jumat lalu. Pelaku pasar mulai merespons di mulainya pembicaraan gencatan senjata antara AS dan Iran, meskipun kekhawatiran terhadap situasi geopolitik masih membayangi.

Mengutip Coindesk, Bitcoin sempat di perdagangkan di sekitar US$64.200 pada Minggu atau naik 0,9 persen dalam sehari. Namun, pergerakannya relatif stagnan dalam sepekan setelah sempat turun di bawah level US$63.000 pada Jumat.

Ethereum dan Solana Menguat, Dogecoin Tertekan

Sejumlah aset kripto utama juga mencatatkan pergerakan positif. Ethereum (ETH) naik 0,5 persen dan menguat 3,3 persen dalam sepekan ke level US$1.734 atau sekitar Rp30,89 juta. Sementara itu, Solana bertambah 1,5 persen menjadi US$73. Tron ikut menguat 1,2 persen. Di sisi lain, token HYPE milik Hyperliquid turun 2 persen dalam sehari, tetapi masih menjadi salah satu aset dengan performa terbaik pekan ini setelah melonjak 14,8 persen.

Baca Juga :  Duel Flagship Oppo Find X9 Series: Intip Perbedaan Versi Ultra dan X9s Pro Sebelum Rilis

Berbeda dengan aset lainnya, Dogecoin justru mencatat penurunan 4,9 persen sepanjang sepekan. Secara keseluruhan, Bitcoin belum menunjukkan tren yang kuat selama beberapa hari terakhir. Harga sempat menguat setelah tercapainya kesepakatan awal terkait Iran. Namun, tekanan jual kembali muncul pada Jumat sebelum akhirnya bergerak stabil sepanjang akhir pekan.

Pembicaraan Damai Jadi Sorotan Investor

Perhatian pasar kini tertuju ke Swiss. Sejumlah pejabat dari AS dan Iran di jadwalkan memulai pembahasan mengenai gencatan senjata permanen. Menurut laporan Bloomberg, delegasi AS yang di pimpin Wakil Presiden JD Vance akan terlibat dalam proses negosiasi tersebut.

Pertemuan itu menjadi kelanjutan dari nota kesepahaman yang di tandatangani Presiden Donald Trump pekan lalu. Kesepakatan tersebut menetapkan masa berlaku selama 60 hari dengan opsi perpanjangan.

Ancaman Selat Hormuz Masih Membayangi Pasar

Meski pembicaraan damai berlangsung, pasar belum sepenuhnya tenang. Iran kembali mengeluarkan instruksi terkait kemungkinan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang berperan besar dalam distribusi energi global.

Baca Juga :  Samsung dan Google Rilis Kacamata AI Gemini, Gandeng Gentle Monster dan Warby Parker

Sebelumnya, terbukanya kembali akses Selat Hormuz membantu menekan harga minyak dunia hingga sekitar 9 persen dalam sepekan. Kondisi tersebut juga mendorong minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.

Namun, langkah Teheran mengirim negosiator ke Swiss sambil tetap melontarkan ancaman penutupan selat membuat ketidakpastian kembali meningkat. Situasi ini membuat pasar kesulitan menentukan arah pergerakan berikutnya.

Risiko Geopolitik Masih Menjadi Faktor Utama

Analis menilai pasar kripto saat ini masih bergerak dalam rentang harga terbatas sambil menunggu perkembangan terbaru dari konflik geopolitik tersebut. Jika Selat Hormuz benar-benar di tutup, harga minyak berpotensi melonjak kembali. Kondisi itu dapat memicu tekanan pada aset berisiko, termasuk Bitcoin dan kripto lainnya.

Sebaliknya, apabila gencatan senjata berlangsung berkelanjutan, sentimen pasar berpeluang membaik. Stabilitas geopolitik juga dapat memberikan ruang bagi aset digital untuk melanjutkan penguatan dalam jangka pendek.

(A/*)

Berita Terkait

Pertamina Perkuat Kapabilitas SDM dan Budaya ESG, Strategi Jangka Panjang Hadapi Transisi Energi
MyPertamina Tembus 31 Juta Pengguna, Pertamina Perkuat Ekosistem Energi Digital di GIIAS 2026
Harga BBM dan LPG Subsidi Dipastikan Tetap, Ini Dampak Fluktuasi Harga Minyak Dunia bagi Indonesia
Toyota Catat Kenaikan Ekspor Mobil 10,7 Persen di Semester I 2026
Promo Emas Galeri 24 Pegadaian Diskon Rp13 Ribu per Gram, Simak Syarat dan Daftar Harganya
OJK: 200 BPR Masih Jalani Proses Merger
Harga Emas Pekan Depan Masih Dibayangi Penguatan Dolar AS
Harga Minyak Dunia Sentuh US$100, Prabowo Minta Simulasi APBN
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:00 WIB

MyPertamina Tembus 31 Juta Pengguna, Pertamina Perkuat Ekosistem Energi Digital di GIIAS 2026

Rabu, 29 Juli 2026 - 08:00 WIB

Harga BBM dan LPG Subsidi Dipastikan Tetap, Ini Dampak Fluktuasi Harga Minyak Dunia bagi Indonesia

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:00 WIB

Toyota Catat Kenaikan Ekspor Mobil 10,7 Persen di Semester I 2026

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:00 WIB

Promo Emas Galeri 24 Pegadaian Diskon Rp13 Ribu per Gram, Simak Syarat dan Daftar Harganya

Senin, 27 Juli 2026 - 11:00 WIB

OJK: 200 BPR Masih Jalani Proses Merger

Berita Terbaru