Berito.id – Gunungan limbah di berbagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kini tidak lagi sekadar menjadi persoalan lingkungan yang terbengkalai. Pemerintah mulai menggeser paradigma tersebut dengan memanfaatkan sampah sebagai sumber energi baru terbarukan. Melalui keterlibatan Danantara dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, eksekusi teknologi pengolahan limbah ini akan di bagi menjadi dua jalur berbeda.
Langkah taktis ini memisahkan penanganan antara pasokan limbah baru dan tumpukan limbah lama yang telah mengendap bertahun-tahun. Karakteristik yang berbeda dari kedua jenis sumbatan ekologis tersebut memerlukan penanganan yang spesifik agar konversi energi berjalan optimal.
Memisahkan Limbah Baru dan Tumpukan Lama
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa pasokan limbah harian atau limbah baru akan di arahkan menuju fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Skema waste to energy ini di rancang untuk memutus rantai penumpukan baru di wilayah perkotaan.
Di sisi lain, tumpukan limbah lama yang telah menggunung di berbagai daerah memerlukan pendekatan yang berbeda. Pemerintah memprioritaskan wilayah dengan volume sumbatan masif seperti Jakarta, Bandung, dan Bali untuk penerapan teknologi khusus ini.
“Pendekatan ini disiapkan karena karakteristik sampah lama dan sampah baru berbeda. Metode pengolahannya pun tidak bisa di samakan,” ujar Pandu Sjahrir di Kemenko Bidang Pangan, Selasa (19/5/2026).
Detail mengenai regulasi dan mekanisme operasional untuk jalur pasokan baru ini akan di umumkan secara resmi oleh pemerintah pada Jumat mendatang.
Tekan Volume TPA, Pirolisis Jadi Solusi BBM
Akselerasi pembersihan area TPA kritis seperti Bantar Gebang di lakukan dengan mengadopsi teknologi pirolisis. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa metode ini efektif untuk mengubah endapan limbah menahun menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) terbarukan.
Kebijakan ini memperluas portofolio pengelolaan pasca-penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Jika sebelumnya fokus utama bertumpu pada insinerator penghasil listrik, kini orientasi beralih pada kemandirian energi berbasis BBM daur ulang. Tumpukan setinggi gedung belasan lantai di berbagai TPA akan menjadi bahan baku utama program ini.
| Kategori Limbah | Teknologi Pengolahan | Output Energi | Wilayah Fokus |
| Pasokan Baru | PSEL / Waste to Energy | Energi Listrik | Area Perkotaan |
| Endapan Lama | Pirolisis | Bahan Bakar Minyak (BBM) | Jakarta, Bandung, Bali |
Target Operasional dan Kolaborasi Lintas Sektor
Proyek strategis ini mengintegrasikan peran berbagai instansi mutakhir. Pemerintah melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup, BRIN, TNI Angkatan Darat, hingga PT Pindad untuk membangun infrastruktur dari skala rumah tangga hingga kawasan industri global.
Pemerintah menetapkan linimasa yang ketat untuk mengukur keberhasilan program ini. Separuh dari total proyek di targetkan beroperasi penuh pada 2027, dan seluruh rangkaian fase kerja wajib selesai pada 2028.
Masyarakat dapat mengharapkan penurunan volume timbunan lingkungan di area pemukiman secara bertahap dalam dua tahun ke depan. Transformasi ini juga membuka peluang pasokan energi alternatif yang lebih bersih bagi sektor domestik.
“Persoalan sampah itu utang kita semua, masyarakat, pemerintah, termasuk media,” kata Zulkifli Hasan menanggapi urgensi komitmen kolektif tersebut. (Nd/*)






