Berito.id – Layar bioskop mulai Rabu (22/4/2026) kemarin resmi di rajai oleh sosok ikonik. Film biopik Michael karya Antoine Fuqua bukan sekadar dokumentasi perjalanan karier, melainkan upaya membedah sisi sendu seorang jenius yang terkekang ekspektasi keluarga.
“Aku sayang keluargaku, tapi hanya ingin melakukan sendiri hal yang kuinginkan,” ucap Michael Jackson versi Jaafar Jackson dalam trailer yang menggetarkan emosi. Ucapan itu menjadi pembuka tabir bagaimana seorang bocah dari Jackson Five bertransformasi menjadi pusat semesta musik dunia.
Bukan Ambisi Menjadi Aktor
Kehadiran Jaafar Jackson (29) di pusat sorotan sebenarnya adalah sebuah ketidaksengajaan yang puitis. Sebagai anak dari Jermaine Jackson kakak kandung Michael Jaafar justru awalnya adalah penonton yang penasaran.
Ia mengaku tak pernah mengincar peran besar ini, apalagi ia berangkat dari nol pengalaman akting. Saat proyek film ini di umumkan, satu-satunya pertanyaan di kepalanya adal, ah siapa yang cukup berani memerankan pamannya tersebut.
“Pikiran pertamaku adalah: ‘Siapa yang akan memerankan Michael?’,” kenang Jaafar jujur.
Getaran yang Menembus Logika Produser
Graham King, produser di balik kesuksesan Bohemian Rhapsody, memiliki standar yang nyaris mustahil. Ia mencari jiwa, bukan sekadar peniru (impersonator). Setelah menyisir hampir 200 aktor di seluruh penjuru dunia, pencariannya berhenti pada Jaafar.
King merasakan dejavu yang kuat. Perasaan spiritual yang ia tangkap saat bertemu Jaafar mengingatkannya pada momen ketika Rami Malek meyakinkannya untuk peran Freddie Mercury.
“Ada sesuatu yang begitu spiritual tentang Jaafar sehingga membicarakan Michael dengannya saja sudah membuatku emosional,” ungkap King. Baginya, kemiripan fisik adalah bonus, namun koneksi batin Jaafar dengan sosok Michael-lah yang tak terkalahkan.
Momen Tes Kamera yang Mengharu Biru
Sutradara Antoine Fuqua punya cerita yang lebih personal. Pada pertemuan pertama, Fuqua sempat mengira Jaafar sedang bersandiwara karena kelembutan jiwanya yang sangat menyerupai Michael Jackson asli.
Puncaknya terjadi saat tes kamera dilakukan. Ketika Jaafar di dandani lengkap dengan atribut ikonik dan mulai menjawab pertanyaan dalam karakter, suasana set seketika berubah magis.
“Ia menjawab dengan begitu indah dan puitis, cara yang sama seperti Michael, sehingga kami semua meneteskan air mata,” tutur Fuqua.
Bagi penonton, film ini bukan hanya soal nostalgia lagu “Black or White”, melainkan menyaksikan bagaimana seorang keponakan memikul beban sejarah dan cinta demi menghidupkan kembali nyawa sang Raja Pop di atas seluloid. ***






