Hantavirus Hantui Kapal Pesiar, Pakar UNAIR Bedah Risiko dan Cara Pencegahannya

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hantavirus Hantui Kapal Pesiar, Pakar UNAIR Bedah Risiko dan Cara Pencegahannya

Hantavirus Hantui Kapal Pesiar, Pakar UNAIR Bedah Risiko dan Cara Pencegahannya

Berito.id – Kasus gangguan pernapasan akut yang menyerang penumpang kapal pesiar MV Hondius memicu alarm kewaspadaan secara global. Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (UNAIR), Laura Navika Yamani, menegaskan bahwa hantavirus jarang muncul secara spontan di ruang tertutup. Munculnya gejala di tengah laut kemungkinan besar berasal dari paparan sebelum keberangkatan atau interaksi di wilayah yang menjadi sarang hewan pengerat.

Hantavirus memiliki karakteristik unik dalam masa inkubasi yang bisa memakan waktu hingga hitungan minggu. Jeda waktu ini sering kali menipu; seseorang mungkin terinfeksi di satu negara, namun baru menunjukkan gejala saat sudah berada di belahan dunia lain. Mobilitas lintas batas menggunakan jalur laut memperumit pelacakan lokasi awal infeksi.

Mekanisme penularannya tidak selalu membutuhkan sentuhan fisik. Partikel mikroskopis dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi dapat terbang ke udara. Menghirup udara yang terkontaminasi partikel tersebut sudah cukup untuk memicu infeksi. Meski mayoritas strain hantavirus tidak menular antarmanusia, varian tertentu seperti Virus Andes memiliki kemampuan transmisi terbatas dari orang ke orang.

Baca Juga :  Panduan Lengkap Cek Pengumuman SPAN-PTKIN 2026 dan Jadwal Terbaru UM-PTKIN

Dampak Perubahan Iklim terhadap Zoonosis

Pergeseran habitat akibat perubahan iklim kini membawa ancaman kesehatan ke wilayah yang sebelumnya di anggap aman. Ekspansi manusia ke area baru dan tren ekowisata mempertemukan masyarakat dengan sumber penyakit zoonosis. Ketidakseimbangan ekosistem ini memaksa hewan pengerat bermigrasi, membawa risiko virus lebih dekat ke aktivitas manusia.

Gejala awal penyakit ini sering kali mengecoh karena mirip dengan penyakit umum:

  • Demam tinggi dan kelelahan ekstrem.

  • Gangguan pencernaan (gastrointestinal).

  • Sesak napas yang memburuk secara eksponensial.

Kondisi tersebut bisa melesat menjadi pneumonia berat, Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), hingga syok dalam waktu singkat.

Fatalitas Tinggi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)

Bentuk paling mematikan dari infeksi ini adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Angka kematiannya sangat mengkhawatirkan.

Baca Juga :  Selamat Jalan Sang Jenderal Bersahaja: Mantan Wapres Try Sutrisno Tutup Usia

“Tingkat fatalitas HPS berada pada rentang 30% hingga 50% jika penderita tidak segera mendapatkan intervensi medis intensif,” ujar Laura.

Langkah Preventif dan Kesiapsiagaan

Publik perlu menyadari pentingnya penguatan sanitasi di area penginapan atau transportasi publik. Deteksi dini melalui sistem surveilans genomik menjadi instrumen krusial bagi otoritas kesehatan untuk memetakan varian virus. Pendekatan One Health yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan harus menjadi standar baru dalam mitigasi pandemi.

Bagi pelaku perjalanan, memantau gejala tubuh setelah mengunjungi wilayah dengan populasi hewan pengerat tinggi adalah langkah penyelamatan nyawa. Kesiapan fasilitas kesehatan dalam menangani kasus darurat pernapasan menjadi benteng terakhir sebelum terjadi eskalasi kasus yang lebih luas di era mobilitas global yang tanpa batas. (Wd/*)

Berita Terkait

Mengulas Spesifikasi Pertamina Dex CN 53 untuk Perawatan Mesin Diesel Modern
Distribusi MinyaKita Didominasi Swasta, Bulog Ungkap Biang Kelangkaan di Pasar
Transaksi E-Commerce UMKM di Wilayah Bencana Sumatera Melonjak Drastis
Pertamina Olah Minyak Jelantah MBG Jadi Bahan Bakar Pesawat (SAF)
Polemik Bakom dan Homeless Media: Transformasi atau Ancaman Independensi?
Setoran Freeport Tembus Rp75 Triliun, Ini Rincian Pembagiannya
Tinggalkan Antrean! Pensiunan Kini Bisa Autentikasi Lewat Selfie di Aplikasi Andal by Taspen
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61% pada Kuartal I 2026, Melampaui Proyeksi Global IMF
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 20:21 WIB

Mengulas Spesifikasi Pertamina Dex CN 53 untuk Perawatan Mesin Diesel Modern

Senin, 11 Mei 2026 - 13:27 WIB

Distribusi MinyaKita Didominasi Swasta, Bulog Ungkap Biang Kelangkaan di Pasar

Senin, 11 Mei 2026 - 10:05 WIB

Transaksi E-Commerce UMKM di Wilayah Bencana Sumatera Melonjak Drastis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:33 WIB

Hantavirus Hantui Kapal Pesiar, Pakar UNAIR Bedah Risiko dan Cara Pencegahannya

Sabtu, 9 Mei 2026 - 15:01 WIB

Pertamina Olah Minyak Jelantah MBG Jadi Bahan Bakar Pesawat (SAF)

Berita Terbaru