Berito.id – Harga Bitcoin (BTC) bergerak di kisaran US$63.961 atau sekitar Rp1,13 miliar pada Minggu (21/6/2026) malam. Pergerakan aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar itu di pengaruhi perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Data CoinMarketCap menunjukkan Bitcoin menguat 0,43 persen dalam 24 jam terakhir. Meski demikian, kinerjanya masih melemah 0,76 persen dalam sepekan.
Bitcoin berhasil memangkas sebagian tekanan yang terjadi pada Jumat lalu. Pelaku pasar mulai merespons di mulainya pembicaraan gencatan senjata antara AS dan Iran, meskipun kekhawatiran terhadap situasi geopolitik masih membayangi.
Mengutip Coindesk, Bitcoin sempat di perdagangkan di sekitar US$64.200 pada Minggu atau naik 0,9 persen dalam sehari. Namun, pergerakannya relatif stagnan dalam sepekan setelah sempat turun di bawah level US$63.000 pada Jumat.
Ethereum dan Solana Menguat, Dogecoin Tertekan
Sejumlah aset kripto utama juga mencatatkan pergerakan positif. Ethereum (ETH) naik 0,5 persen dan menguat 3,3 persen dalam sepekan ke level US$1.734 atau sekitar Rp30,89 juta. Sementara itu, Solana bertambah 1,5 persen menjadi US$73. Tron ikut menguat 1,2 persen. Di sisi lain, token HYPE milik Hyperliquid turun 2 persen dalam sehari, tetapi masih menjadi salah satu aset dengan performa terbaik pekan ini setelah melonjak 14,8 persen.
Berbeda dengan aset lainnya, Dogecoin justru mencatat penurunan 4,9 persen sepanjang sepekan. Secara keseluruhan, Bitcoin belum menunjukkan tren yang kuat selama beberapa hari terakhir. Harga sempat menguat setelah tercapainya kesepakatan awal terkait Iran. Namun, tekanan jual kembali muncul pada Jumat sebelum akhirnya bergerak stabil sepanjang akhir pekan.
Pembicaraan Damai Jadi Sorotan Investor
Perhatian pasar kini tertuju ke Swiss. Sejumlah pejabat dari AS dan Iran di jadwalkan memulai pembahasan mengenai gencatan senjata permanen. Menurut laporan Bloomberg, delegasi AS yang di pimpin Wakil Presiden JD Vance akan terlibat dalam proses negosiasi tersebut.
Pertemuan itu menjadi kelanjutan dari nota kesepahaman yang di tandatangani Presiden Donald Trump pekan lalu. Kesepakatan tersebut menetapkan masa berlaku selama 60 hari dengan opsi perpanjangan.
Ancaman Selat Hormuz Masih Membayangi Pasar
Meski pembicaraan damai berlangsung, pasar belum sepenuhnya tenang. Iran kembali mengeluarkan instruksi terkait kemungkinan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang berperan besar dalam distribusi energi global.
Sebelumnya, terbukanya kembali akses Selat Hormuz membantu menekan harga minyak dunia hingga sekitar 9 persen dalam sepekan. Kondisi tersebut juga mendorong minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Namun, langkah Teheran mengirim negosiator ke Swiss sambil tetap melontarkan ancaman penutupan selat membuat ketidakpastian kembali meningkat. Situasi ini membuat pasar kesulitan menentukan arah pergerakan berikutnya.
Risiko Geopolitik Masih Menjadi Faktor Utama
Analis menilai pasar kripto saat ini masih bergerak dalam rentang harga terbatas sambil menunggu perkembangan terbaru dari konflik geopolitik tersebut. Jika Selat Hormuz benar-benar di tutup, harga minyak berpotensi melonjak kembali. Kondisi itu dapat memicu tekanan pada aset berisiko, termasuk Bitcoin dan kripto lainnya.
Sebaliknya, apabila gencatan senjata berlangsung berkelanjutan, sentimen pasar berpeluang membaik. Stabilitas geopolitik juga dapat memberikan ruang bagi aset digital untuk melanjutkan penguatan dalam jangka pendek.
(A/*)






