Berito.id – Harga emas dunia mendadak anjlok. Pada penutupan Rabu (29/4/2026), harga emas spot tergelincir 1,2 persen ke angka USD 4.541,30 per ounce. Tak hanya itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman Juni juga terpangkas 1,3 persen di level USD 4.546,20.
Koreksi tajam ini muncul sesaat setelah Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. Keputusan yang sejatinya sudah di prediksi pasar ini justru memberikan tekanan hebat karena hilangnya daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Drama Perpecahan 8-4 di Tubuh The Fed
Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) kali ini jauh dari kata harmonis. Di bawah kepemimpinan Jerome Powell yang kabarnya segera berakhir, para petinggi bank sentral justru terpecah belah secara ekstrem.
Hasil pemungutan suara menunjukkan angka 8-4. Ini adalah perbedaan pendapat terbesar sejak Oktober 1992. Empat pejabat regional secara terbuka menentang narasi “pelonggaran” kebijakan moneter karena khawatir inflasi yang stagnan di level 3 persen sejak akhir 2023 akan kembali meledak.
“Ketua Powell mengakhiri masa jabatannya dengan empat perbedaan pendapat. Ini menyoroti ketidakpastian ekonomi jangka pendek yang sangat tinggi,” ujar Kepala Investasi Northwestern Mutual, Brent Schutte.
Faktor Trump dan Buntunya Dialog Iran
Sentimen negatif bagi emas tak berhenti di Washington. Dari meja diplomasi global, laporan menyebutkan negosiasi perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat menemui jalan buntu. Presiden AS Donald Trump secara tegas menyatakan ketidaksenangannya terhadap proposal terbaru dari Teheran.
Analis MarketPulse OANDA, Zain Vawda, menilai kegagalan kesepakatan ini memperkuat narasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Ketegangan geopolitik yang biasanya menjadi bahan bakar kenaikan emas, kali ini justru teredam oleh kekhawatiran inflasi minyak akibat konflik tersebut.
Peluang Rebound ke USD 5.500?
Meski saat ini sedang “berdarah”, masa depan logam mulia belum sepenuhnya gelap. Vawda memprediksi tren kenaikan harga emas bisa segera kembali jika kesepakatan AS-Iran tercapai dengan cepat. Jika skenario itu terjadi, emas diproyeksikan mampu melesat hingga mengakhiri tahun 2026 pada kisaran USD 5.300 sampai USD 5.500 per ounce.
Bagi investor domestik, fluktuasi global ini biasanya akan segera berimbas pada harga emas batangan Antam atau UBS di dalam negeri dalam 24 jam ke depan.
Tips Bagi Investor Emas: Saat harga dunia sedang terkoreksi akibat kebijakan suku bunga, ini seringkali dianggap sebagai momen buy on weakness bagi investor jangka panjang. Pantau terus pergerakan nilai tukar Rupiah, karena harga emas lokal sangat bergantung pada kombinasi harga spot dunia dan kurs USD.
Apakah menurut Anda harga emas akan segera pulih atau justru semakin tertekan oleh kebijakan kepemimpinan baru The Fed nanti? ***






