Berito.id – Pasar emas memulai pekan dengan rapor merah. Harga emas spot terpantau merosot 0,2 persen ke level USD 4.698,27 per ounce pada Selasa (28/4/2026). Setali tiga uang, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Juni pun terkoreksi 0,4 persen ke angka USD 4.722,60.
Situasi ini tergolong anomali. Biasanya, emas menjadi primadona saat inflasi mengintai. Namun, volatilitas yang ekstrem justru membuat pemodal besar, terutama dari belahan Barat, memilih untuk menahan diri dan keluar dari gelanggang sementara waktu.
Efek Domino Selat Hormuz
Dunia sedang tidak baik-baik saja. Harga minyak mentah Brent baru saja menembus barikade USD 105 per barel—titik tertinggi dalam tiga pekan terakhir. Biang keladinya adalah macetnya urat nadi energi dunia di Selat Hormuz. Jalur yang mengalirkan seperlima pasokan energi global ini masih tertutup sebagian akibat ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Analis independen Ross Norman menilai, meskipun tensi geopolitik belum mencapai titik didih tertinggi, dampaknya pada ekspektasi inflasi sangat nyata. Kenaikan harga energi otomatis memicu kekhawatiran bahwa suku bunga akan bercokol di level tinggi dalam durasi yang lebih panjang.
“Ekspektasi inflasi meningkat akibat kenaikan harga minyak. Volatilitas harga yang tinggi membuat sebagian investor memilih menjauh,” tutur Norman.
Menanti ‘Lagu Perpisahan’ Jerome Powell
Mata dunia kini tertuju pada Washington. Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan moneter yang sangat krusial pekan ini. Momen tersebut di prediksi menjadi salah satu panggung terakhir bagi Jerome Powell sebagai Ketua The Fed.
Emas berada dalam posisi terjepit. Sebagai aset tanpa imbal hasil, daya tarik logam mulia meredup setiap kali ada sinyal suku bunga tetap tinggi. Pernyataan resmi The Fed yang akan di rilis pada Rabu pukul 14.00 waktu setempat menjadi kunci.
Pelaku pasar ingin melihat bagaimana para pengambil kebijakan merespons ancaman inflasi akibat konflik Iran-AS. Jika Powell memberikan sinyal hawkish (suku bunga tinggi), harga emas diprediksi masih akan menghadapi tekanan hebat hingga Mei mendatang.
Tips Bagi Investor: Dalam kondisi volatilitas tinggi seperti saat ini, teknis dollar cost averaging atau membeli secara bertahap saat harga terkoreksi bisa menjadi langkah bijak untuk mengamankan portofolio jangka panjang sebelum hasil audit forensik ekonomi global keluar pertengahan tahun nanti. ***






