Harga Emas Dunia Merosot ke Level USD 4.524 di Tengah Penguatan Dolar AS

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 5 Mei 2026 - 11:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga Emas Dunia Merosot ke Level USD 4.524 di Tengah Penguatan Dolar AS

Harga Emas Dunia Merosot ke Level USD 4.524 di Tengah Penguatan Dolar AS

Berito.id – Pasar komoditas global tersentak. Emas, yang selama ini di agungkan sebagai pelindung nilai (safe haven), justru kehilangan kilaunya. Harga emas dunia melorot tajam sekitar 2% pada perdagangan Senin waktu setempat. Eskalasi militer di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran menjadi sumbu utama yang memicu reli dolar AS, sekaligus menekan posisi logam mulia.

Data perdagangan spot menunjukkan emas terkoreksi 2,6% ke angka USD 4.524,40 per ounce. Sementara emas berjangka AS untuk kontrak Juni ditutup pada level USD 4.533,30, atau menyusut 2,4%. Angka ini mencerminkan volatilitas tinggi yang melanda pasar keuangan global dalam 24 jam terakhir.

Dolar Perkasa di Atas Penderitaan Emas

Ketegangan memuncak pasca serangan terhadap kapal-kapal niaga di Selat Hormuz dan sabotase fasilitas minyak di Uni Emirat Arab. Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengerahkan armada Angkatan Laut ke jalur pelayaran vital tersebut justru memicu konfrontasi terbuka.

Respons pasar sangat mekanis. Dolar AS menguat sebagai aset likuid paling di cari saat krisis. Dampaknya, emas yang di banderol dalam mata uang Paman Sam menjadi jauh lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lain. Akibatnya, tekanan jual tak terhindarkan.

Baca Juga :  Roblox Makin Ketat: Tiga Jenis Akun Baru Meluncur Mei 2026 untuk Jamin Keamanan Anak

Kenaikan harga minyak Brent yang menembus 5% turut memperkeruh suasana. Lonjakan harga energi adalah bahan bakar utama inflasi. Selama hantu inflasi masih bergentayangan, bank sentral dunia, khususnya Federal Reserve (The Fed), hampir di pastikan tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

Tekanan Suku Bunga dan Data Tenaga Kerja

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menyoroti bahwa pasar saat ini kehilangan rasa aman. Sinyal kebijakan suku bunga yang tetap tinggi (hawkish) menjadi pukulan telak. Pasalnya, emas tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding asset). Saat suku bunga bertahan di level tinggi, memegang uang tunai atau obligasi menjadi jauh lebih menguntungkan ketimbang menyimpan batangan emas.

Pekan ini menjadi periode krusial. Pelaku pasar menanti rilis data nonfarm payroll, angka lowongan kerja JOLTS, dan laporan ADP. Data-data ini akan menjadi kompas bagi The Fed untuk menentukan langkah berikutnya. Namun, lembaga keuangan Barclays sudah memberikan peringatan keras: jangan harap ada pemangkasan suku bunga sepanjang tahun 2026 ini.

Baca Juga :  Transaksi E-Commerce UMKM di Wilayah Bencana Sumatera Melonjak Drastis

Melek memprediksi level dukungan (support) kuat emas berada di kisaran USD 4.200 per ounce. Jika level ini tertembus, potensi koreksi lebih dalam bisa terjadi, meski secara jangka panjang emas tetap memiliki fundamental yang kokoh.

Dilema Safe Haven di Era Volatilitas Tinggi

Fenomena anjloknya emas saat konflik bersenjata pecah menunjukkan adanya pergeseran perilaku pasar. Biasanya, emas naik saat perang. Namun, ketika perang tersebut memicu lonjakan harga energi yang masif, inflasi menjadi variabel yang lebih ditakuti. Pasar lebih memilih bertaruh pada penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga tinggi daripada berlindung di emas.

Bagi investor ritel, situasi ini adalah alarm untuk melakukan diversifikasi. Penurunan hingga USD 4.200 bukanlah akhir dari segalanya, melainkan fase konsolidasi teknis. Langkah praktis yang bisa diambil adalah wait and see hingga rilis data ketenagakerjaan AS keluar. Jangan terburu-buru melakukan panic selling, namun pastikan portofolio Anda memiliki likuiditas yang cukup untuk menghadapi potensi dolar yang semakin perkasa hingga akhir kuartal. (Nd/*)

Berita Terkait

Harga Emas Antam Hari Ini 14 Mei 2026, Stagnan di Rp2,839 Juta per Gram
Jadwal Libur Bursa Efek Indonesia 15 Mei 2026, Strategi Menghadapi Cuti Bersama
OJK Perkuat Literasi Kripto dan Tokenisasi Aset, Cegah Penipuan Digital Generasi Muda
OpenAI Perkuat Dominasi Korporasi Lewat Investasi Rp 69,68 Triliun
Wall Street Tembus Rekor Baru, Dominasi AI Melawan Tekanan Geopolitik
IHSG Terkoreksi ke 6.750 Jelang Rebalancing MSCI dan Sentimen Royalti Tambang
IHSG Anjlok ke 6.905 Akibat Eksodus Modal Asing di Saham Perbankan dan Blue Chip
Simulasi Imbal Hasil ST016, Raih Passive Income Stabil dengan Pajak Rendah
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:02 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 14 Mei 2026, Stagnan di Rp2,839 Juta per Gram

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:06 WIB

Jadwal Libur Bursa Efek Indonesia 15 Mei 2026, Strategi Menghadapi Cuti Bersama

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:04 WIB

OJK Perkuat Literasi Kripto dan Tokenisasi Aset, Cegah Penipuan Digital Generasi Muda

Selasa, 12 Mei 2026 - 15:03 WIB

OpenAI Perkuat Dominasi Korporasi Lewat Investasi Rp 69,68 Triliun

Selasa, 12 Mei 2026 - 09:32 WIB

Wall Street Tembus Rekor Baru, Dominasi AI Melawan Tekanan Geopolitik

Berita Terbaru