Berito.id – Pasar komoditas global tersentak. Emas, yang selama ini di agungkan sebagai pelindung nilai (safe haven), justru kehilangan kilaunya. Harga emas dunia melorot tajam sekitar 2% pada perdagangan Senin waktu setempat. Eskalasi militer di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran menjadi sumbu utama yang memicu reli dolar AS, sekaligus menekan posisi logam mulia.
Data perdagangan spot menunjukkan emas terkoreksi 2,6% ke angka USD 4.524,40 per ounce. Sementara emas berjangka AS untuk kontrak Juni ditutup pada level USD 4.533,30, atau menyusut 2,4%. Angka ini mencerminkan volatilitas tinggi yang melanda pasar keuangan global dalam 24 jam terakhir.
Dolar Perkasa di Atas Penderitaan Emas
Ketegangan memuncak pasca serangan terhadap kapal-kapal niaga di Selat Hormuz dan sabotase fasilitas minyak di Uni Emirat Arab. Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengerahkan armada Angkatan Laut ke jalur pelayaran vital tersebut justru memicu konfrontasi terbuka.
Respons pasar sangat mekanis. Dolar AS menguat sebagai aset likuid paling di cari saat krisis. Dampaknya, emas yang di banderol dalam mata uang Paman Sam menjadi jauh lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lain. Akibatnya, tekanan jual tak terhindarkan.
Kenaikan harga minyak Brent yang menembus 5% turut memperkeruh suasana. Lonjakan harga energi adalah bahan bakar utama inflasi. Selama hantu inflasi masih bergentayangan, bank sentral dunia, khususnya Federal Reserve (The Fed), hampir di pastikan tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Tekanan Suku Bunga dan Data Tenaga Kerja
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menyoroti bahwa pasar saat ini kehilangan rasa aman. Sinyal kebijakan suku bunga yang tetap tinggi (hawkish) menjadi pukulan telak. Pasalnya, emas tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding asset). Saat suku bunga bertahan di level tinggi, memegang uang tunai atau obligasi menjadi jauh lebih menguntungkan ketimbang menyimpan batangan emas.
Pekan ini menjadi periode krusial. Pelaku pasar menanti rilis data nonfarm payroll, angka lowongan kerja JOLTS, dan laporan ADP. Data-data ini akan menjadi kompas bagi The Fed untuk menentukan langkah berikutnya. Namun, lembaga keuangan Barclays sudah memberikan peringatan keras: jangan harap ada pemangkasan suku bunga sepanjang tahun 2026 ini.
Melek memprediksi level dukungan (support) kuat emas berada di kisaran USD 4.200 per ounce. Jika level ini tertembus, potensi koreksi lebih dalam bisa terjadi, meski secara jangka panjang emas tetap memiliki fundamental yang kokoh.
Dilema Safe Haven di Era Volatilitas Tinggi
Fenomena anjloknya emas saat konflik bersenjata pecah menunjukkan adanya pergeseran perilaku pasar. Biasanya, emas naik saat perang. Namun, ketika perang tersebut memicu lonjakan harga energi yang masif, inflasi menjadi variabel yang lebih ditakuti. Pasar lebih memilih bertaruh pada penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga tinggi daripada berlindung di emas.
Bagi investor ritel, situasi ini adalah alarm untuk melakukan diversifikasi. Penurunan hingga USD 4.200 bukanlah akhir dari segalanya, melainkan fase konsolidasi teknis. Langkah praktis yang bisa diambil adalah wait and see hingga rilis data ketenagakerjaan AS keluar. Jangan terburu-buru melakukan panic selling, namun pastikan portofolio Anda memiliki likuiditas yang cukup untuk menghadapi potensi dolar yang semakin perkasa hingga akhir kuartal. (Nd/*)






